Penyebab Ekspor Sumbar Juni 2017 Turun

Pewarta : id Ekspor, Sumbar, BPS

Ilustrasi - ( ANTARA FOTO/Reno Esnir/ama/16)

Padang, (Antara Sumbar) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mencatat ekspor provinsi itu pada Juni 2017 mencapai 158,63 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau turun 13,36 persen dibandingkan Mei 2017 yang mencapai 183,10 juta dolar AS.

"Penyebab turunnya volume ekspor Sumbar dipengaruhi harga komoditas sehingga pengusaha memutuskan untuk mengurangi ekspor," kata Kepala BPS Sumbar, Sukardi di Padang, Senin.

Ia menyebutkan golongan barang paling banyak diekspor pada Juni 2017 adalah lemak dan minyak hewan senilai 107,88 juta dolar AS, karet dan barang dari karet sebesar 32,26 juta dolar AS, dan produk kimia 5,67 juta dolar AS.

Penurunan ekspor nonmigas Juni 2017 terjadi pada beberapa negara tujuan yaitu India turun sebesar 39,39 persen dan Singapura 11,11 persen, katanya.

Sementara ekspor ke Amerika Serikat mengalami peningkatan sebesar 5,43 persen dan ke Srilangka 172,28 persen.

Kemudian, negara tujuan ekspor nonmigas terbesar pada Juni 2017 adalah India sebesar 56,20 juta dolar AS, Amerika Serikat sebesar 49,24 juta dolar AS, dan Spanyol sebesar 18,22 juta dolar AS, lanjutnya.

Ia menyampaikan selama periode Januari- Juni 2017 ekspor ke India memiliki peran yang terbesar terhadap total ekspor Sumatera Barat yaitu sebesar 37,65 persen, Amerika Serikat 23,77 persen, dan Singapura 10,17 persen.

Dengan demikian, selama Januari-Juni 2017 peran total ekspor ke tiga negara tersebut mencapai 71,60 persen, ujarnya.

Pada sisi lain ekspor produk industri pengolahan mengalami penurunan sebesar 13,54 persen dan ekspor sektor pertambangan juga mengalami penurunan sebesar 10,91 persen.

Sementara nilai impor Sumatera Barat pada Juni 2017 mencapai 37,72 juta dolar AS atau mengalami peningkatan sebesar 5,38 persen dibandingkan dengan Mei 2017 yang hanya 35,79 juta dolar AS.

Golongan barang impor terbesar Juni 2017 adalah bahan bakar mineral sebesar 32,13 juta dolar AS, pupuk 3,88 juta dolar AS, golongan produk keramik sebesar 1,31 juta dolar AS, kata dia.

Ia mengatakan impor terbesar berasal dari negara Singapura senilai 19,57 juta dolar AS, dan Malaysia 12,62 juta dolar AS.

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) perwakilan Sumatera Barat mencatat kinerja ekspor propinsi itu pada triwulan I 2017 naik signifikan mampu tumbuh signifikan 21,19 persen dibandingkan triwulan IV 2016 yang hanya tumbuh minus 4,9 persen.

"Kinerja ekspor luar negeri Sumatera Barat menunjukkan perbaikan signifikan seiring dengan perbaikan permintaan dari negara mitra dagang dan peningkatan harga internasional komoditas utama ekspor," kata Kepala BI perwakilan Sumbar Puji Atmoko.

Ia menilai peningkatan permintaan ke negara mitra dagang didorong oleh pemulihan ekonomi negara tersebut serta berkurangnya produksi kompetitor negara lain.

Hal ini terkonfirmasi dari hasil liaison kontak perusahaan industri olahan CPO yang menunjukkan bahwa permintaan ekspor kontak industri olahan meningkat karena membaiknya pasokan bahan baku dalam negeri di tengah pasokan negara pesaing yang menurun, katanya.

Selain itu, berdasarkan data yang dihimpun dari perusahaan industri karet menyebutkan bahwa hingga awal 2017, kinerja produksi karet dan ekspornya terus membaik imbas dari perbaikan harga karet. (*)
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar