Membangun Karakter Cinta Lingkungan Sejak Dini

Pewarta : id cinta lingkungan

Siswa SD Bustanul Ulum Padang sedang belajar kelompok di halaman sekolah di bawah rindangnya pepohonan .Antara Sumbar/Ikhwan Wahyudi.

Padang, (Antara Sumbar) -Waktu menunjukan pukul 06.50 WIB saat bunyi bel memecah keceriaan pagi di SD Bustanul Ulum yang mulai ramai dengan sorak sorai siwa yang baru tiba di sekolah pagi itu.

Tak lama berselang terdengar suara dari pengeras suara memberikan instruksi "saatnya kita melakukan aksi bersih". Tanpa dikomando para siswa segera menuju ke depan kelas masing-masing.

Didampingi wali kelas mereka mulai memungut sampah di area yang menjadi tanggung jawab kelas. Khusus kelas V sibuk membereskan area green house dan kelas VI membersihkan jalan yang ada di depan sekolah.

Tak lupa mereka memastikan bunga yang ada di taman dalam kondisi baik, jika ada yang layu atau rusak segera dibawa ke green house.

Berselang 10 menit kemuduan kemudian aksi bersih pun tuntas. Ratusan siswa kemudian berbaris dan siap masuk kelas untuk mengikuti proses belajar pada hari itu.

Aksi bersih yang digelar 10 menit sebelum kelas dimulai merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap hari di SD Bustanul Ulum Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang.

Meski berada di pinggiran Kota Padang atau sekitar 20 kilometer dari pusat kota, SD Bustanul Ulum merupakan sekolah penerima penghargaan Adiwiyata Mandiri dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2017.

Bangunannya yang asri oleh rindangnya pepohonan didominasi warna hijau serta taman yang apik dan segarnya udara pagi membuat suasana belajar lebih nyaman.

Penanaman karakter cinta lingkungan sejak dini lewat materi belajar dan praktik kepada siswa telah membuat para murid di sekolah itu lebih peduli dan cinta lingkungan.

"Kalau ada sampah atau daun yang jatuh di halaman, tanpa disuruh siswa biasanya spontan membersihkan," kata Kepala SD Bustanul Ulum Bustami.

Tidak hanya itu siswa SD Bustanul Ulum juga terlatih membuat kompos dan biopori. Kebolehan mereka langsung diperagakan ketika tim penilai Adiwiyata dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat melakukan penilaian.

Saat itu beberapa siswa dipilih secara acak dan dengan lancar mereka memperagakan bagaimana langkah-langkah membuat kompos.

Para siswa juga paham memilah sampah mana yang bisa dibuat kompos dan mana yang tidak. Dalam diri mereka juga tertanam prinsip sampah tidak boleh dibakar karena bisa merusak lingkungan.

Meski pun berada di pinggir kota, kecintaan siswa terhadap lingkungan sudah tertanam lewat beragam pembelajaran yang terintegrasi dan praktik yang diajarkan di sekolah.

Saat mereka belajar Bahasa Indonesia misalnya membuat puisi atau pantun maka temanya pasti soal lingkungan. Mereka juga dilatih untuk mengonsumsi makanan yang sehat sehingga di cafe sekolah hanya ada jajanan yang sehat dan tidak mengandung pengawet.

Di sekolah itu juga tersedia fasilitas ruangan UKS serta toilet yang senantiasa terjaga kebersihannya.

Pada sisi lain keterlibatan orang tua siswa dalam pendidikan patut diacungkan jempol. Meski 98 persen para wali murid berprofesi sebagai petani tetapi secara berkala mereka menggelar gotong royong.

"Kalau partisipasi tenaga luar biasa, soal akademik sepenuhnya diserahkan pada guru karena kondisi mereka mayoritas petani," lanjut Bustami.

Ia mengatakan jika di sekolah telah ditanamkan kepedulian terhadap lingkungan namun tidak mendapat dukungan dari masyarakat sekitar juga akan percuma.

Tidak hanya itu tokoh masyarakat, pemuda hingga alumni selalu terlibat dalam beragam kegiatan sekolah. SD Bustanul Ulum juga mendapatkan sokongan langsung dari PT Semen Padang lewat program Coorporate Social Responsibilty (CSR).

Lewat Yayasan Igasar tak kurang dari Rp850 juta per tahun digelontorkan PT Semen Padang membantu operasional SD Bustanul Ulum untuk menggaji para guru dan menyokong kegiatan sekolah.

Tidak hanya itu sekolah juga dibantu mesin pencacah untuk membuat kompos yang merupakan hasil karya pelajar SMK Semen Padang.

Meski pun hanya sekolah swasta dengan jumlah murid 131 orang SD Bustanul Ulum dipercaya membina 13 sekolah lainnya terkait Adiwiyata di tiga kecamatan terdekat.

Kepala SD Bustanul Ulum Bustami menyebutkan sekolah yang dibina antara lain SDN 19, SDN 05, SDN 20, SDN 06 SDN 07, SDN 14 yang semuanya berlokasi di Kecamatan Pauh serta SDN 34 dan SDN 29 di Kecamatan Lubuk Begalung serta SD Dian Andalas di Kecamatan Lubuk Kilangan.

"Kami turun langsung ke sekolah tersebut untuk mempraktikan apa yang telah dilakukan di SD Bustanul Ulum mulai dari kebersihan hingga cara membuat kompos," katanya.

Karakter Cinta Lingkungan

Penanaman karakter cinta lingkungan sejak dini dinilai efektif untuk membentuk pribadi yang pedulu akan kelestarian alam karena jika sejak kecil sudah ditanam kebiasaan saat dewasa mereka akan terlatih.

Meski SD Bustanul Ulum berada di pinggir kota kesadaran para siswa untuk bersahabat dengan alam mulai tumbuh. Dalam diri para siswa pun tertanam perilaku agar tidak membuang sampah sembarangan dan sebaliknya saat meihat sampah segera memungut.

Pakar Tata Kelola Universitas Bung Hatta Padang Miko Kamal Phd menilai saat ini banyak warga yang masih senang membuang sampah sembarangan meski mereka adalah orang yang terpelajar.

Ia melihat salah satu aspek yang menyebabkan perilaku membuang sampah sembarang jadi kebiasaan adalah lemahnya pendidikan dasar.

Jika sejak dini ditanamkan lewat pendidikan akan jadi bagian karakter, katanya.

Ia menceritakan pengalaman ketika kuliah di Australia ditegur oleh seorang mahasiswa saat membuang sampah dan diminta memungut kembali.

"Padahal mahasiswa itu tidak kenal saya namun ia amat peduli dengan kebersihan daerahnya,” kata dia.

Ia menekankan dalam membangun aspek manusia merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan karena kalau membangun fisik cukup menyediakan uang namun kalau soal manusia belum jaminan akan berhasil sekali pun uang banyak.

Oleh sebab itu untuk membangun manusia pemerintah bisa menanamkan melalui muatan lokal yang ada di sekolah dasar dan SMP lewat praktik pembangunan karakter.



Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar